Jaalis Ahlas Shidqi Wal Wafai Artinya

Kata mutiara Jaalis ahlas shidqi wal wafai adalah mahfudzat tentang persahabatan. Bagaimana memilih seseorang yang layak dijadikan sahabat.

Bagaimana tulisan Jaalis ahlas shidqi wal wafai? Apa penjelasannya? Semua dibahas disini.

Tulisan Jaalis Ahlas Shidqi Wal Wafai

جَالِسْ أَهْلَ الصِّدْقِ وَالوَفَاءِ

Jaalis Ahlash Shidqi wal Wafaa’

Arti Jaalis Ahlas Shidqi Wal Wafai

Bertemanlah atau bergaullah dengan orang-orang yang jujur dan setia pada janji.”

جَالِسْBertemanlah atau bergaullah
أَهْلَ(dengan) orang-orang
الصِّدْقِyang jujur
وَالوَفَاءِdan setia pada janji

Penjelasan Jaalis Ahlas Shidqi Wal Wafai

Di dalam mahfudzat yang singkat ini, mengisyarakatkan hal yang harus menjadi pedoman dalam memilih sahahabat. yakni, sifat jujur dan setia pada janji.

Hal ini berlaku dalam Islam dan non Islam. Kedua hal diatas ibarat mata uang yang tidak dapat dipisahkan.

Bahkan, ada ungkapan kejujuran adalah mata uang yang berlaku dimana-mana. Dimanapun berada, selama ada kejujuran, pasti akan diterima oleh orang lain.

Baca juga: Arti Mawaddatush Shodieqi Tadzharu Waktadh Dhieq

Kaligrafi tulisan Jaalis Ahlas Shidqi Wal Wafai

Contoh Jaalis Ahlas Shidqi Wal Wafai

Di dalam Islam, sifat Jujur merupakan sebuah sifat yang sangat mulia. Ia merupakan salah satu sifat utama Nabi Muhammad ﷺ.

Bahkan ia merupakan sifat seluruh Nabi dan Rasul yang diutus oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala ke muka bumi ini untuk menyampaikan dakwah kepada Tauhid.

Tanpa sifat ini, maka tidak mungkin risalah itu akan dipercaya dan diterima oleh umat manusia.

Karena seluruh umat manusia, baik muslim maupun kafir pada dasarnya sangat menghargai sifat jujur dan sangat membenci sifat dusta.

Mereka tidak bisa menerima manusia biasa berdusta, apalagi utusan Allah Rabbul ‘alamin. Oleh karena itu, jujur merupakan salah satu sifat wajib para nabi dan rasul dan mustahil ada Nabi dan rasul yang suka berdusta.

Hal ini bisa kita lihat dari hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari yang menceritakan dialog panjang antara Abu Sufyan bin Harb dengan raja Heraklius kaisar Romawi Kristen.

Kala itu, Abu Sufyan masih dalam keadaan kafir. Meski mereka adalah tokoh-tokoh kafir namun sangat membenci sifat dusta.

Berikut ini cuplikan dialog pendek dari hadits yang sangat penjang tersebut:

Heraklius berkata melalui penerjemahnya, ”Katakan kepadanya, bahwa aku bertanya kepadanya tentang lelaki yang mengaku sebagai Nabi. Jika ia berdusta kepadaku maka kalian harus mendustakannya.”

Abu Sufyan berkata, ”Demi Allah, kalau bukan rasa malu akibat tudingan pendusta yang akan mereka lontarkan kepadaku niscaya aku berdusta kepadanya.” [Hadits riwayat Al Bukhari no. 2941][i]

Dari sifat jujur akan terlahir berbagai sifat mulia yang lain. Banyak kebaikan akan muncul dari dirinya.

Dan berteman dengan orang yang jujur akan mendapatkan banyak maslahat dan tidak akan pernah merasa khawatir akan ditipu atau dibohongi.

Jiwa menjadi tenang, persahabatan menjadi lebih terpelihara dan awet karena tidak ada dusta di antara mereka.

Persahabatan yang dibangun di atas kejujuran akan penuh berkah. Bahkan hubungan bisnis dan perdagangan dengan mereka yang jujur itu akan diberkahi.

Dari sahabat Hakim bin Hizam, Nabi ﷺ bersabda,

الْبَيِّعَانِ بِالْخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا – أَوْ قَالَ حَتَّى يَتَفَرَّقَا – فَإِنْ صَدَقَا وَبَيَّنَا بُورِكَ لَهُمَا فِى بَيْعِهِمَا ، وَإِنْ كَتَمَا وَكَذَبَا مُحِقَتْ بَرَكَةُ بَيْعِهِمَا

”Dua orang penjual dan pembeli masing-masing memiliki hak pilih (khiyar) selama keduanya belum berpisah – atau sampai mereka berdua berpisah-. Bila keduanya berlaku jujur dan berterus terang, maka keduanya akan memperoleh keberkahan dalam transaksi tersebut.

Dan bila mereka saling menutupi dan berdusta, dihapuslah keberkahan transaksi mereka berdua.” [Hadits riwayat Al-Bukhari 2079 dan Muslim 1532.]

Allah juga telah memerintahkan kita untuk bersama dengan orang-orang yang jujur. Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

”Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” [At Taubah: 119]

Adapun tentang sifat wafa’ yaitu sifat suka menepati janji, ini juga merupakan sifat khas dan wajib dari para Nabi dan Rasul ‘alaihimus salam.

Tak satu pun dari mereka yang dikenal suka ingkar janji.

Baca juga: Khoirul Ashab Man Yadulluka ‘Alal Khoir Artinya

Rasulullah ﷺ adalah nabi dipuji oleh Allah Ta’ala sebagai manusia yang akhlaknya benar-benar agung.

Beliau telah menunjukkan kepada musuh besar mereka saat itu yaitu kaum Quraiys bahwa dirinya tidak pernah menyelisihi janji. Bahkan, meskipun pemenuhan janji itu secara lahir terkesan merugikan kaum Muslimin.

Hal ini terlihat paska penandatanganan perjanjian damai antara Nabi ﷺ dengan Quraisy di Hudaibiyah.

Ada salah seorang dari kaum Quraisy yang masuk Islam lalu berhijrah ke Madinah. Maka pihak Quraisy menuntut Nabi ﷺ untuk memenuhi janjinya, yaitu akan mengembalikan siapa saja di antara Quraisy yang masuk Islam kepada mereka.

Akhirnya beliau meminta sahabat tersebut untuk ikut dengan orang-orang Quraisy. Hebatnya, sahabat Nabi ﷺ tersebut juga tidak marah kepada Nabi ﷺ karena beliau dalam posisi harus memenuhi perjanjian yang ada.

Ini teladan besar dari Nabi ﷺ . Dan sifat ini juga merupakan sifat orang mukmin yang benar imannya selain sifat jujur. Allah Ta’ala berfirman tentang sifat -sifat orang mukmin yang bakal menjadi penghuni surga firdaus yang paling tinggi di antaranya adalah:

وَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ . وَالَّذِينَ هُمْ عَلَىٰ صَلَوَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ . أُولَٰئِكَ هُمُ الْوَارِثُونَ . الَّذِينَ يَرِثُونَ الْفِرْدَوْسَ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

8. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya.

9. dan orang-orang yang memelihara sembahyangnya.

10. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi,

11. (yakni) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya. [Al-Mukminun: 8-11]

Dengan demikian, bila kita berteman serta bergaul akrab dengan orang-orang yang jujur dan setia kepada janji, itu sama saja kita telah bergaul dengan orang-orang yang mulia.

Tidak akan pernah kita dapati madharat dari bersabat dengan mereka.

Kita tidak akan pernah ditipu dan dikhianati. Dua sifat ini merupakan sumber kelanggengan dan keberkahan hubungan antar individu dalam sebuah komunitas masyarakat.

Dan pelajaran terpenting dari mahfuzhat bertemanlah dengan orang yang jujur dan setia kepada janji adalah kita akan terpengaruh dengan sifat-sifat baik tersebut.

Sifat jujur dan setia kepada janji dalam diri kita akan semakin menguat. Selain itu juga akan ada rasa aman dari penipuan dan akan terhindar dari kekecewaan karena teman-teman semacam itu.

Kita tidak akan pernah menipu dan tidak akan pernah melanggar janjinya. Alangkah baiknya berteman dengan orang semacam itu.

Rasulullah ﷺ bersabda,

 – المَرْءُ عَلَى دِيْنِ خَلِيْلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

“Seseorang itu akan sesuai dengan agama teman dekatnya. Maka hendaklah kalian melihat dengan siapa dia berteman dekat.” [Hadits shahih riwayat Abu Dawud (4833), At-Tirmidzi (2378) dan Ahmad (8398) dan lafazh hadits ini bersumber dari riwayat Ahmad.]

Maksud hadist ini adalah seseorang itu akan menyerupai temannya atau sahabatnya dalam hal perilaku dan kebiasaannya.

Teman itu berpengaruh pada akhlak, perilaku, sikap dan pandangan manusia kepada masing-masing dari dua orang yang berteman itu, melalui pengetahuan mereka terhadap keadaan sahabatnya.

Oleh karenanya nabi ﷺ mengarahkan agar teliti dalam memilih teman. Dalam riwayat lain Rasulullah ﷺ bersabda,

لا تصاحِبْ إلَّا مُؤمنًا

“Janganlah berteman kecuali dengan orang mukmin.” [Hadits hasan riwayat Abu Dawud]

Maksudnya, janganlah menjadikan teman atau sahabat kecuali dari kalangan orang mukmin. Karena orang mukmin itu akan menunjukkan temannya kepada iman, petunjuk dan kebaikan serta akan menjadi penolong baginya.[ii]

Sebagaimana kita ketahui bersama, biasa berdusta dan suka ingkar janji itu merupakan dua sifat khas dari sifat orang munafik.

Maka alangkah celakanya kita bila berteman akrab dengan orang-orang munafik. Na’udzubillah mindzalik.

Tulisan Jaalis Ahlas Shidqi Wal Wafai pertama kali diunggah pada 2 Agustus 2021


[i] https://dorar.net/hadith/sharh/7193

[ii] https://www.dorar.net/hadith/sharh/76506

Leave a Comment