Arti Man Saara Ala Darbi Washala

Man Saara Ala Darbi Washala adalah salah satu mahfudzat yang sangat terkenal. Ungkapan kata mutiara dalam Bahasa Arab ini sangat populer.

Tak hanya di kalangan santri saja, kini bahkan di banyak kalangan sekolah Islam. Sebab, ada lagu yang mengandung lirik tersebut.

Lalu, apa arti dan maksud ungkapan tersebut? Inilah penjelasan lengkapnya:

Tulisan Man Saara Ala Darbi Washala & Artinya

Tulisan Arab nya

مَنْ سَارَ عَلىَ الدَّرْبِ وَصَلَ

Man Saaro ‘alad Darbi Washola

Man Saara Ala Darbi Washola Artinya

“Siapa yang berjalan pada jalannya niscaya akan sampai (di tujuan).”

مَنْ Siapa (Barangsiapa)
سَارَ yang berjalan
عَلىَ الدَّرْبِ pada jalannya
وَصَلَ Sampai (Niscaya akan sampai)

Washola Artinya

Sampai atau sampai tujuan.

Penjelasan Man Saara Ala Darbi Washala

Kalimat berhikmah ini -yang lebih dikenal dengan istilah Mahfuzhat- sangat umum cakupannya. Bisa ditafsirkan dengan berbagai macam tafsiran atau istilahnya multitafsir.

Namun lazimnya, kata-kata mutiara ini sering dimaknai untuk motivasi meraih kesuksesan harus melewati jalannya.

Kalau seseorang ingin meraih keberhasilan atau kesuksesan dalam suatu persoalan atau di bidang tertentu, maka hendaknya orang tersebut harus menempuh jalan yang benar.

Konsisten di jalan itu, dapat mengantarkannya kepada kesuksesan yang ingin diraih. Dia akan sampai tujuan.

Tidak boleh salah jalan karena tidak akan pernah sampai ke sana. Ada sebuah syair Arab terkenal yang senada dengan ungkapan mahfuzhat tersebut yakni

تَرجُوْ النَّجَاةَ وَلَمْ تَسْلُكْ مَسَالِكَهَا

إِنَّ السَّفِيْنَةَ لَا تَجْرِيْ عَلَى اْليَبَسِ

Tarjun Najah wa lam tasluk masaalikaha

Innas safiinah laa tajrii ‘alal yabas

Artinya:

Kamu mengharapkan keselamatan namun kamu tidak menempuh jalannya

Sesungguhnya perahu itu tidak berlayar di atas daratan

Syair Abu ‘Athahiyah

Baca juga: Arti Man Jadda Wajada

Praktek Man Saara Ala Darbi Washola

Coba kita diaplikasikan konsep man saara ala darbi washola dalam konteks kehidupan dalam pandangan Islam.

Mencari Keselamatan Dunia Akhirat

Jika umat manusia ingin mendapatkan keselamatan atau kebahagiaan di dunia dan akhirat, maka harus menempuh jalan hidup yang akan mengantarkannya ke sana.

Dan satu-satunya jalan hidup yang akan mewujudkan impian umat manusia di seluruh penjuru dunia ini hanyalah dengan Islam.

Apapun latar belakang budaya, etnis dan bahasanya, di sepanjang jaman untuk meraih kebahagiaan dan keselamatan adalah Islam. Bukan yang lain.

Karena Allah Ta’ala sang pencipta umat manusia sendiri yang menegaskan hal tersebut. Allah Ta’ala berfirman:

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. [Al-Baqarah: 85]

Kerugian di akhirat itu berarti kehidupan yang penuh kehinaan, kesengsaraan dan penderitaan tak terbayangkan dan tak tertahankan, untuk jangka waktu yang tak ada batasnya.

Allah Ta’ala berfirman:

فَاعْبُدُوا مَا شِئْتُمْ مِنْ دُونِهِ ۗ قُلْ إِنَّ الْخَاسِرِينَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ وَأَهْلِيهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۗ أَلَا ذَٰلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ

لَهُمْ مِنْ فَوْقِهِمْ ظُلَلٌ مِنَ النَّارِ وَمِنْ تَحْتِهِمْ ظُلَلٌ ۚ ذَٰلِكَ يُخَوِّفُ اللَّهُ بِهِ عِبَادَهُ ۚ يَا عِبَادِ فَاتَّقُونِ

Maka sembahlah olehmu (hai orang-orang musyrik) apa yang kamu kehendaki selain Dia. Katakanlah: “Sesungguhnya orang-orang yang rugi ialah orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri dan keluarganya pada hari kiamat”. Ingatlah yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.

Bagi mereka lapisan-lapisan dari api di atas mereka dan di bawah merekapun lapisan-lapisan (dari api). Demikianlah Allah mempertakuti hamba-hamba-Nya dengan azab itu. Maka bertakwalah kepada-Ku hai hamba-hamba-Ku. [Az-Zumar: 15-16]

Mencari Kebahagiaan Dunia

Jalan untuk meraih keselamatan dan kebahagiaan di akhirat adalah sama dengan jalan untuk meraih keselamatan dan kebahagiaan di dunia.

Islam merupakan jalan untuk mewujudkan kebahgiaan di dunia dan akhirat bagi seluruh umat manusia, bukan hanya di akhirat saja.

Allah Ta’ala berfirman:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. [An-Nahl: 97]

Kita sering dapati orang-orang yang ingin mendapatkan kebahagiaan dalam hidup, namun menempuh jalan hidup orang-orang yang celaka menurut al-Quran.

Jalan hidup dan cara hidup yang tidak Islami, permisif, hedonis, semau gue mengikuti hawa nafsunya.

Orang-orang seperti ini hanya akan menemui fatamorgana, kebahagiaan palsu dan kesenangan semu. Tidak mungkin kebahagiaan sejati akan didapatkan. Dan itulah yang terjadi.

Banyak orang berharta, punya popularitas, berpendidikan tinggi dan berasal dari keluarga terpandang dari ukuran status sosial saat ini.

Dari luar nampak tidak ada masalah, baik-baik saja. Di kemudian hari muncullah kasus yang tak pernah terbayangkan dalam benak setiap orang.

Kadang orang-orang semacam itu ternyata nekat melakukan sesuatu yang sangat rendah dan hina.

Mereka tak segan serta melanggar norma hukum dan agama. Katanya demi untuk menghilangkan tekanan batin yang dideritanya. Padahal mereka memiliki semuanya.

Seringkali pelarian orang-orang semacam itu adalah mengkonsumsi, minuman keras, obat-obat terlarang atau bergelimang dalam kehidupan bebas.

Ujungnya bukan kebahagiaan yang didapat namun justru duka dan derita. Jalan yang ditempuh sesat dan salah. Sehingga mustahil akan sampai kepadanya.

Pada titik ektstrimnya, bunuh diri kadang menjadi pilihan jalan keluar dari sebagian kalangan yang sudah putus asa mencari kebahagiaan dan ketentraman hidup.

Pencarian mereka tak berujung. Kebagiaan tidak kunjung didapatkan meski harta melimpah ruah dan berada di puncak ketenaran.

Baca juga: Ash Shobru Yu’inu ‘Ala Kulli ‘amalin Artinya

Mencari Ridho Orang Tua

Contoh sederhana jalan yang benar untuk meraih tujuan yang baik, misalnya, bila seseorang ingin mendapatkan keridhaan orang tua, maka jalannya adalah mentaati mereka dan berbakti kepadanya.

Mustahil ridha orang tua bisa diperoleh dengan senantiasa menentang dan durhaka kepada mereka.

Mencari Ridho Allah

Demikian pula dengan ridha Allah Ta’ala. Untuk mendapatkan ridha Allah, mustahil bisa diraih dengan bermaksiat.

Seumur hidup bermaksiat, berfoya-foya, jauh dari Allah, lalu berharap meninggal dalam keadaan diridhai oleh Allah Ta’ala. Apalagi dengan memilih jalan hidup di luar Islam, tentu akan lebih mustahil.

Mencari Kesuksesan Dunia

Jalan untuk mendapatkan kesuksesan dunia juga demikian. Ada jalur yang telah diketahui dan teruji yang akan menyampaikan setiap orang ke pintu gerbang kesuksesan.

Dan ada juga jalan yang jelas-jelas hanya akan berujung kepada kegagalan, baik dalam karir maupun studi.

Karena itu, buku-buku yang ditulis oleh orang-orang yang paling berhasil di bidangnya dalam skala dunia atau minimal nasional, biasanya sangat laris manis karena dinilai akan memberikan pengetahuan jalan menuju kesusksesan semacam itu. Ini rasional.

Orang yang telah berhasil dan punya kemampuan menjelaskan bagaimana ia berhasil, bisa menunjukkan kepada orang lain jalan menuju keberhasilan yang ia raih bagi orang-orang yang ingin mengikuti jejaknya.

Hanya saja, variabel kesuksesan itu bukan sekedar tahu jalannya. Ada banyak faktor yang mempengaruhinya.

Tapi ada satu hal yang prinsip, kalau ingin sukses harus melalui jalan menuju kesusksesan yang telah ditunjukkan oleh mereka yang sukses.

Kalau ingin bahagia, harus melalui jalan yang telah dilalui orang-orang yang terbukti mendapatkan kebahagiaan hakiki. Bila ingin selamat, maka harus mengikuti jalan orang-orang yang telah nyata-nyata selamat.

Dan Islam memberikan kepastian dalam semua itu. Bagi yang ingin selamat, bahagia dan sejahtera, sukses dunia akhirat maka jalannya dan tuntunannya ada dalam Islam.

Maka ikutilah islam secara lahir dan batin, baik dalam urusan pribadi, keluarga, masyarakat dan bahkan kehidupan bernegara. Siapa saja yang menempuh jalannya niscaya akan sampai kepada tujuannya. Wallahu a’lam.

Tulisan man saara ala darbi washala pertama kali diunggah pada 28 Juli 2021

Leave a Comment