Hadits Tentang Perumpamaan Kapal

Hadits Tentang Perumpamaan Kapal merupakan permisalan yang diberikan Rasulullah ﷺ tentang pentingnya amar ma’ruf nahi munkar. Hadits ini merupakan riwayat An Nu’man bin Basyir.

Lalu, apa kandungan hadits tersebut? Tulisan ini mencoba mengupasnya:

Lafadz Hadits Tentang Perumpamaan Kapal

عَنِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيْرٍ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا- مَرْفُوْعًا: «مَثَلُ اْلقَائِمِ فِيْ حُدُوْدِ اللهِ وَاْلوَاقِعِ فِيْهَا كَمَثَلِ قَوْمٍ اسْتَهَمُوْا عَلَى سَفِيْنَةٍ فَصَارَ بَعْضُهُمْ أَعْلَاهَا وَبَعْضُهُمْ أَسْفَلَهَا، وَكَانَ الَّذِيْنَ فِيْ أَسْفَلِهَا إِذَا اسْتَقَوْا مِنَ اْلمَاءِ مَرُّوْا عَلَى مَنْ فَوْقَهُمْ، فَقَالُوْا: لَوْ أَنَّا خَرَقْنَا فِي نَصِيْبِنَا خَرْقاً وَلَمْ نُؤذِ مَنْ فَوْقَنَا، فَإِنْ تَرَكُوْهُمْ وَمَا أَرَادُوْا هَلَكُوْا جَمِيْعاً، وَإِنْ أَخَذُوْا عَلَى أَيْدِيْهِم نَجَوْا وَنَجَوْا جَمِيْعاً

صحيح – رواه البخاري

Arti Hadits Tentang Permisalan Kapal

Dari Nu’man bin Basyir Radhiyallahu ‘anhuma – hadits yang diriwayatkan secara marfu’-:

”Permisalan orang yang menjaga larangan-larangan Allah dan orang yang melanggar larangan-larangan-Nya adalah bagaikan sekelompok orang yang berundi dalam sebuah kapal. Akhirnya ada sebagian orang mendapat bagian atas dan sebagiannya lagi di bagian bawah kapal tersebut.

Yang berada di bagian bawah bila ingin mengambil air, tentu ia harus melewati orang-orang di atasnya. Mereka berkata, “Andaikan saja kita membuat (satu) lubang di bagian kita ini, (tentu) tidak mengganggu orang yang berada di atas kita.”

Seandainya yang berada di bagian atas membiarkan orang-orang di bawah menuruti kehendaknya, niscaya semuanya akan binasa. Dan, bila mereka melarang orang-orang yang di bawah berbuat demikian, maka mereka selamat dan selamat pula semua penumpang kapal itu.” [ Hadits riwayat Al-Bukhari (2361)]

Hadits ini juga diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (2173) dan Ahmad (4/268)

Kandungan Hadits Amar Ma’ruf Yang Ingin Melubangi Kapal

Hadits Tentang Permisalan Orang di kapal bagian atas dan bawah
Sumber: https://unsplash.com/photos/lsPWYmWJ0uY

Hadits Nu’man merupakan salah satu hadits tentang amar ma’ruf nahi munkar. Berikut beberapa kandungan terkait hadits di atas:

  1. Permisalan ini merupakan dalil bahwasanya selayaknya bagi seorang mu’allim (pengajar) untuk memberikan permisalan.

Tujuannya, mempermudah pemahaman dengan memberikan permisalan yang nyata. Karenanya, Allah berfirman dalam salah satu ayatnya:

وَتِلْكَ الْاَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِۚ وَمَا يَعْقِلُهَآ اِلَّا الْعَالِمُوْنَ – العنكبوت ٤٣

Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia; dan tidak ada yang akan memahaminya kecuali mereka yang berilmu. (Al Ankabut: 43)

Berapa banyak orang yang sudah dijelaskan panjang lebar akan tetapi tidak juga paham. Akan tetapi ketika diberikan permisalan, dia langsung dapat paham dan mengerti maksudnya.

  1. Bolehnya mengundi.
  1. Bolehnya membuat peraturan yang berbeda dengan hasil undian. Contohnya peraturan yang dibuat dari hasil undian (bagi penghuni kapal di atas dan dibawah)
  1. Bolehnya orang yang diatas mengikat dan membuat larangan bagi orang yang dibawah untuk memberikan mudharat dengan peraturan.
  1. Orang yang dibawah tidak boleh membuat sesuatu yang mengakibatkan madharat bagi orang yang diatas. Apabila dia melakukannya, maka dia wajib untuk memperbaikinya.
  1. Manfaat meninggalkan kemungkaran tidak hanya kembali kepada pelakunya saja, tetapi juga menyeluruh ke masyarakat. Begitu juga sebaliknya apabila dia melakukan kemungkaran (madharatnya bukan hanya kepada dirinya saja, tetapi keseluruh masyarakat disekitarnya)
  1. Kehancuran masyarakat terjadi karena membiarkan pelaku munkar melakukan kerusakan.
  1. Kalau setiap pelaku kemungkaran melakukan kerusakan di masyarakatnya, sesungguhnya dia sedang melakukan kerusakan yang parah terhadap ‘kapal’ masyarakat.
  1. Kebebasan manusia tidak bersifat mutlak. Akan tetapi terbatas dengan menjaga hak manusia lainnya disekitarnya dan juga menjaga kemaslahatan mereka.
  1. Kadang ada beberapa manusia yang membahayakan masyarakat karena ijtihad yang salah atau niat yang baik. Karenanya, wajib untuk melarang mereka dan memahamkan kepada mereka akibat dari apa yang mereka lakukan.
  1. Amar ma’ruf nahi munkar merupakan salah satu cara menjaga masyarakat dari murka Allah
  1. Tanggungjawab seorang muslim itu secara kolektif tidak hanya tergantung pada satu individu. Akan tetapi, setiap mereka bertanggungjawab sesuai kapasitasnya. Diringkas dari islamic-content.com

Filosofi Kapal Dalam Islam

Filosofi-Perahu-Dalam-Islam-MuslimSolo.com_

Filosofi kapal dalam islam adalah seperti permisalan entitas dalam masyarakat. Baik dari yang terkecil yang berbentuk keluarga, kemudian masyarakat yang lebih besar, dan bisa jadi sebuah negeri.

Siapapun yang berusaha melakukan sebuah kemaksiatan dari lingkup yang paling kecil harus dicegah. Sebab, akibatnya, tidak hanya menimpa yang melakukan sebuah maksiat, tetapi semua yang berada di dalamnya.

Di dalam surat Al Anfal ayat 25, Allah mengingatkan:

وَاتَّقُوْا فِتْنَةً لَّا تُصِيْبَنَّ الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا مِنْكُمْ خَاۤصَّةً ۚوَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ

Tafsir Lengkap dalam Kemenag, Allah menyerukan kepada orang-orang beriman, agar memelihara diri mereka dari siksaan, yang tidak hanya khusus menimpa orang-orang zalim itu saja di antara orang-orang beriman.

Maksudnya ialah apabila di dalam suatu kaum perbuatan maksiat telah merata maka Allah akan menyiksa mereka itu secara keseluruhan.

Siksaan itu tidak hanya bagi orang yang melakukan kemaksiatan itu saja, akan tetapi siksaan itu akan menimpa mereka secara merata tanpa pilih kasih, meskipun di dalamnya terdapat juga orang-orang yang saleh yang berada di antara mereka itu.

Rasulullah saw bersabda:

مَامِنْ قَوْمٍ يَعْمَلُ بِهِمْ بِالْمَعَاصِيْ هُمْ أَغَرُّ وَأَكْثَرُ مِمَّنْ لاَ يَعْمَلُوْنَ ثُمَّ لَمْ يُغَيِّرُوْهُ إِلاَّ عَمَّهُمُ الله ُبِعِقَابٍ (رواه أحمد عن جرير)

“Tidak ada suatu kaum yang sebagian besar orang-orangnya lebih terpedaya melakukan kemaksiatan dari yang tidak melakukan, kemudian mereka tidak mau mengubahnya selain Allah akan menyiksa mereka dengan siksaan yang merata.” (Riwayat Ahmad dari Jarir)

Oleh sebab itulah di dalam masyarakat ada institusi yang mengurus kemaslahatan dan mengurus amar ma’ruf dan nahi mungkar.

Lembaga ini hendaknya bertugas meneliti kemaksiatan yang timbul dalam masyarakat, serta berusaha pula untuk mencari cara-cara pencegahannya.

Juga lembaga ini berusaha untuk menggiatkan masyarakat melakukan segala yang diperintahkan oleh agama dan menghentikan segala sesuatu yang dilarang.

Apabila kemaksiatan itu telah merata, dan masyarakat telah melupakan agama, maka bencana yang akan menimpa masyarakat itu tidak hanya akan menimpa suatu kelompok atas golongan tertentu saja, tetapi bencana itu akan dirasakan oleh anggota masyarakat, secara keseluruhan dan merata.

Di akhir ayat ini Allah memperingatkan orang-orang mukmin agar mereka itu mengetahui bahwa Allah amat pedih siksaan-Nya. Siksaan Allah ditimpakan atas siapa saja yang melanggar hukum-Nya.

Ancaman Tuhan yang sangat keras ini akan berlaku apabila kejahatan itu telah merajalela dan merata di segenap anggota masyarakat itu tanpa pandang bulu. Sedangkan ancaman-ancamannya di akhirat ditimpakan kepada orang-orang, yang melakukannya sesuai dengan berat ringannya perbuatan yang dilakukan oleh orang itu.

Dalam hal ini, akibat kemaksiatan menimpa seluruh masyarakat atau penduduk sebuah negeri berlaku di dunia. Sedangkan di akhirat, hanya pelakunya saja yang disiksa akibat perbuatannya tersebut.

Terjemah Perkata Hadits Permisalan Kapal

Hadits Amar Ma'ruf di atas Kapal yang mau melubangi bawahnya
Sumber: httpsunsplash.comphotosAUVAI-1t_MY
عَنِDari
النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيْرٍNu’man bin Basyir
رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَاRadhiyallahu ‘anhuma Semoga Allah meridhai dirinya dan bapaknya (Nu’man dan Basyir)
مَرْفُوْعًاhadits yang diriwayatkan secara marfu’
مَثَلُPermisalan
اْلقَائِمِorang yang menjaga
فِيْ حُدُوْدِ اللهِlarangan-larangan Allah
وَاْلوَاقِعِdan orang yang melanggar
فِيْهَاdalamnya (larangan-larangan-Nya)
كَمَثَلِadalah bagaikan
قَوْمٍsekelompok orang
اسْتَهَمُوْاyang berundi
عَلَىdalam
سَفِيْنَةٍsebuah kapal
فَصَارَ بَعْضُهُمْMaka ada sebagian orang (mendapat)
أَعْلَاهَاbagian atas
وَبَعْضُهُمْdan sebagiannya yang lain
أَسْفَلَهَاdi bagian bawah kapal
وَكَانَ الَّذِيْنَDan orang-orang yang
فِيْ أَسْفَلِهَاberada di bagian bawah
إِذَا اسْتَقَوْاbila ingin mengambil (air)
مِنَ اْلمَاءِair
مَرُّوْاmereka (harus) melewati
عَلَى مَنْ فَوْقَهُمْorang-orang yang berada diatasnya
فَقَالُوْاMereka berkata
لَوْ أَنَّا خَرَقْنَاAndaikan saja kita membuat lubang
فِي نَصِيْبِنَاdi bagian kita ini
خَرْقاًSatu Lubang
وَلَمْ نُؤذِsehingga kita tidak mengganggu
مَنْ فَوْقَنَاorang yang berada di atas kita
فَإِنْ تَرَكُوْهُمْSeandainya mereka (yang berada di bagian atas) membiarkan
وَمَا أَرَادُوْاapa yang ingin dilakukan
هَلَكُوْا جَمِيْعاً(niscaya) semuanya akan binasa
وَإِنْ أَخَذُوْاDan, bila mereka mencegah / melarang
عَلَى أَيْدِيْهِم(orang-orang yang di bawah) berbuat demikian
نَجَوْا وَنَجَوْا جَمِيْعاًmaka mereka selamat dan selamat pula semua penumpang kapal itu

Tulisan hadits permisalan kapal ini pertama kali diunggah pada 05 Agustus 2021

Sumber Foto

  1. https://unsplash.com/photos/0MEMXMOy–Y

Leave a Comment